Press Release: Pertandingan Badminton Tahunan di Maastricht

Press Release: Pertandingan Badminton Tahunan di Maastricht

Maastricht, Belanda, 10 Mei 2014, puluhan masyarakat Indonesia berkumpul di sporthall De Heeg, Maastricht dalam rangka turnamen badminton Maastricht Miriam Habibie Cup yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maastricht didukung oleh KBRI Den Haag. Hingga saat ini, turnamen tahunan badminton ini sudah diadakan ke-10 kali.

Kompetisi tahunan ini selalu diadakan di bulan Mei atau Juni tiap tahun di Maastricht. Kota Maastricht terkenal dengan Maastricht Treaty, persetujuan yang ditandatangan pada 1992, yang menjadi awal mata uang Euro dan Uni Eropa. Maastricht berada diposisi strategis, diantara perbatasan Belanda, Belgia, dan Jerman, sebagai kota lintas budaya. Tidak heran jika sering terdengar beragam bahasa di Maastricht, seperti Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman.

Tahun ini, kompetisi ini diikuti oleh tim yang berasal dari Belanda dan Belgia, tidak hanya melibatkan warga negara Indonesia, namun juga diikuti oleh warga negara Vietnam, Tiongkok, dan Belanda. Kompetisi ini, untuk pertamakali dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori pertama yang memperebutkan Maastricht Miriam Habibie Cup. Sedangkan kategori kedua memperebutkan Maastricht Cup. Kategori pertama diperuntukkan bagi peserta yang lebih berpengalaman daripada kategori kedua.

“Pilihan olahraga badminton adalah bukti perhatian PPI Maastricht untuk cabang olahraga yang popular dan akrab di masyarakat Indonesia. Tidak sedikit prestasi gemilang badminton di dunia internasional. Dengan niat untuk membangun persahabatan, maka PPI Maastricht selalu mengadakan turnamen badminton tiap tahun,” ujar Arip Muttaqien, salah satu panitia.

Dalam sejarah pelaksanaan Maastricht Miriam Habibie Cup, telah menarik peserta yang tinggal di Belanda, Belgia, Jerman, Prancis, Denmark, dan Spanyol, sebagian besar adalah warga Indonesia yang tinggal di Eropa. Sebagian besar dari mereka menjadikan badminton sebagai hobi utama.

Sejak awal dilaksanakan, kompetisi ini bernama Maastricht Cup. Kemudian, sejak tahun 2010, kompetisi ini berganti nama menjadi Maastricht Miriam Habibie Cup. Pemberian nama Miriam Habibie adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap Ibu Miriam Habibie, istri mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Bapak Junus Effendi Habibie. Keduanya adalah tokoh yang sangat peduli dengan kehidupan mahasiswa Indonesia di Belanda.

Setelah melewati satu hari pertandingan, pemenang kategori (Maastricht Miriam Habibie Cup) pertama jatuh kepada tim dari KBRI Brussels dan pemenang kedua jatuh kepada tim dari Indonesia Migrant Worker Union (IMWU). Sedangkan pemenang kategori kedua (Maastricht Cup) jatuh kepada tim dari KBRI Den Haag, pemenang kedua jatuh kepada PPI Rotterdam, dan pemenang ketiga jatuh kepada tim dari PPI Groningen.

“Pelaksanaan turnamen badminton ini tidak hanya mengejar kemenangan. Namun yang lebih penting adalah persahabatan antara peserta, supporter, dan panitia,” lanjutnya. Acara ditutup pada Sabtu sore dengan pemberian medali, piala, dan hadiah kepada pemenang oleh pihak KBRI Den Haag. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *